Artikel Ilmiah (Riqky Ananda Putra - K1A118050)

 

ARTIKEL ILMIAH

PERANAN OLAHRAGA PADA MASA PANDEMI COVID-19

 

  


 

RIQKY ANANDA PUTRA

K1A118050

 

 


 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN

JURUSAN PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KEPELATIHAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

 

 

 

PERANAN AKTIVITAS OLAHRAGA PADA MASA PANDEMI COVID-19

 

Oleh:

Riqky Ananda Putra (K1A118050)

Program Studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

UniversitasJambi

riqkyanandaputra@gmail.com

 

Abstrak

 

Dengan adanya Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak buruk yang merugikan setiap sektor kehidupan, tidak dapat dipungkiri kemerosotan ekonomi, sosial dan kesehatan masyarakat menjadi perhatian kita bersama dalam membangkitkan sektor tersebut. Dari segi sosial yang berkaitan dengan dampak kesehatan, Pandemi Covid-19 menyebabkan resiko terjadinya sebuah pola sedentary lifestyle dalam kehidupan manusia, Dalam menjawab tantangan tersebut dengan memunculkan solusinya yaitu dengan memunculkan kiat-kiat membangkitkan semangat menjaga kesehatan dengan olahraga. Peranan dan manfaat dengan berolahraga mempunyai dampak positif yang besar terhadap kesehatan masyarakat di masa Pandemi Covid-19. Aktifitas Olahraga akan menjadi sebuah solusi yang taktis dalam menanggulangi pola hidup yang tidak sehat serta upaya dengan kiat-kiat mengajak masyarakat melakukan aktivitas olahraga diharapkan dapat menekan angka penurunan kesehatan di tengah masa Pandemi Covid-19.

 

Kata Kunci : Aktifitas, Olahraga, Pandemi Covid-19

 

Abstract

 

With the Covid-19 Pandemic having had a negative impact on every sector of life, it is undeniable that the economic, social and public health deterioration is our common concern in reviving this sector. From a social point of view related to health impacts, the Covid-19 Pandemic has caused a lifestyle pattern in human life. In responding to these challenges with a solution, namely tips to arouse the spirit of health through exercise. The role and benefits of exercising had a big positive impact on public health during the Covid-19 Pandemic. Sports activities will be a tactical solution in overcoming unhealthy lifestyles as well as efforts to encourage people to do sports activities that can reduce the decline in health in the midst of the Covid-19 Pandemic.

 

Keywords: Activities, Sports, Covid-19 Pandemic

Pendahuluan

Saat ini masyarakat sedang dalam tekanan dibidang ekonomi, sosial, terutama pada kesehatan, dimana covid- 19 menghantui kehidupan masyarakat pada umumnya. Padahal masyarakat memiliki hak dasar atas kesehatan yang telah diakui dan dilindungi oleh konstitusi, maka Negara dalam hal ini pemerintah haruslah berperan aktif dalam hal tersebut (Nurhalimah, 2020). Covid-19 yang kita tahu bersama merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia dan dapat menular kepada manusia lainnya. Virus ini bisa menyerang siapa saja, namun yang lebih rentan ialah anak-anak, lansia, dan ibu hamil serta orang-orang yang ketebalan tubuhnya (imunitas) nya rendah. Salah satu cara menjaga ataupun meningkatkan imunitas tubuh kita yaitu dengan melakukan kegiatan olahraga atau aktivitas fisik. Seperti yang dinyatakan oleh (Sukendra, 2015) yaitu aktivitas olahraga/fisik yang tidak berlebihan atau dengan kata lain olahraga kategori ringan dan sedang mampu menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh, sehingga tubuh tidak mudah terserang penyakit

Menurut World Health Organization (WHO, 2010) aktivitas fisik dapat didefinisikan sebagai gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot-otot rangka dan membutuhkan energi. Berbagai aktivitas fisik seperti berlari, berjalan, bekerja, bermain, angkat beban dan berbagai latihan fisik lainnya. Aktifitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga dan energi atau pembakaran kalori (RI, 2015).

Faktor-faktor seseorang dalam melakukan aktivitas fisik/olahraga diantaranya yaitu pertama jenis kelamin, jenis kelamin menjadi salah satu faktor melakukan aktivitas olahraga karena antara laki-laki dan wanita memiliki motivasi yang berbeda-beda dalam hal melakukan kegiatan olahraga. Kedua dukungan orang lain/ teman, dalam melakukan kegiatan olahraga walaupn dilakukan secara individu, namun peran teman sangatlah dibutuhkan dalam hal memberi motivasi dalam setiap kegiatan yang dilakukan. dan yang terakhir adalah perceived barriers yang lemah (Dinanti, 2019).

Berdasarkan pendapat di atas tentang aktivitas fisik maka dapat di simpulkan bahwasanya aktivitas fisik atau olahraga adalah kegiatan yang dilakukan seseorang dalam bentuk kegiatan olahraga yang melibatkan semua anggota tubuh serta dalam kegiatannya membutuhkan energi yang berasal dari dalam tubuhnya sendiri dan energi yang dibutuhkan tergantung dengan tingkatan aktivitas fisik yang ia lakukan.

Aktifitas olahraga merupakan sebuah manifesto untuk menjaga kesehatan, yang mana olahraga banyak manfaat diperoleh begitu kompleks, baik dari sisi jasmani maupun rohani. Tidak mudah untuk membangkit semangat berolahraga di kalangan masyarakat, untuk mendasarnya diperlukan sebuah upaya penumbuhan kesadaran terlebih dahulu dalam mengedukasi masyarakat untuk melakukan aktifitas olahraga, kemudian juga mengedukasi manfaat aktifitas olahraga dalam menjaga kesehatan terlebih di tengah masa pandemi covid-19.

Upaya peningkatan kesehatan sesungguhnya  dapat  dilakukan  oleh  setiap orang melalui kegiatan sederhana  dan murah.  Disamping pengaturan makan, penggunaan olahraga merupakan usaha sederhana dan murah untuk meningkatkan kesehatan asalkan disertai pengetahuan dan pengertian tentang kesehatan  olahraga  yang benar. Kemampuan swalayan husada dalam keluarga perlu  dipupuk  dan  dibina  sejak usia   dini,   sehingga dapat terhindar dari gangguan kesehatan yang dapat melemahkan ketahanan Sumbe Daya Manusia bagi pembangunan. Salah  satu  cara  untuk  menjaga  dan meningkatkan  kesehatan  masyarakat  yaitu melalui olahraga. Olahraga   merupakan kegiatan  melakukan  aktifitas  fisik  dengan baik atau mengolah tubuh /fisik dengan baik dan  teratur  dengan  tujuan  olahraga  untuk memelihara  dan  menjaga  kesehatan.
Secara umum semua cabang olahraga dapat digunakan untuk   memelihara kesehatan.

 

Pembahasan

Semua bangsa mengakui bahwa olahraga merupakan salah satu unsur yang berpengaruh dan bermanfaat dalam kehidupan manusia, Sudah sejak 25 abad yang lampau orang mencari-cari cara agar tubuhnya sehat. Hypocrates (460 - 577 SM) misalnya telah memberikan saran yang sarnpai sekarang masih cocok untuk dilakukan. Jika kita bisa memberikan tubuh makanan dan olahraga yang cukup, tidak kurang dan tidak berkelebihan sebenarnya kita telah menemukan cara yang paling aman dalam memperoleh kesehatan. lchsan (1991) olahraga pada dasarnya berisi kegiatan yang berorientasi pada gerak. Pelaksanaannya bergantung pada kemarnpuan dan kegiatan yang ingin dicapai oleh pelakunya. Melalui aktivitas jasmani akan terjadi perubahan berupa pengaruh positif terhadap kesehatan. Sebaliknya akibat negatif akan diperoleh jika olahraga itu dilakukan dengan cara yang salah- Cara berolahraga yang benar sebetulnya sudah banyak masyarakat mengetahuinya, karena sangat tergantung kepada tujuan apa yang ingin dicapainya.

Asas kesinambungan diperlukan untuk mencapai status kesehatan yang lebih baik. Orang yang terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam kesibukannya sehari-hari memerlukan kompensasi. Dia membutuhkan kegiatan lari sehgai "pelepas lelah". Kita membutuhkan kegiatan seperti kegiatan rohaniah yang memberikan keseimbangan antara kegiatan jasmaniah dan rohaniyah. Keseimbangan yang lebih lengkap lagi meliputi faktor fisiologis, psikologis dan sosial. Jika dilihat lebih jauh lagi faktor fisiologis meliputi kebutuhan gizi, faktor psikologi melibatkan mental dan lingkungan sosial.

Jika dilihat makna, sehat menurut WHO dan Depkes RI, Giri Wijoyo (1991) mengemukakan "pengertian sehat yakni sejahtera jasmani, rohani dan sosial, bukan saja bebas dari penyakit, cacat ataupun kelemahan". Jadi sehat itu meliputi tiga aspek yang saling berhubungan erat, yakni jasmani, rohani dan sosial. Karena itu tidaklah mengherankan pembinaan kesehatan melalui satu aspek yaitu olahraga yang mempengaruhi terhadap rohani dm sosial. Sementara bagian sehat bebas penyakit, cacat dan kelemahan. Kesehatan mempunyai tingkatan, dia akan meningkat apabila dibina dan akan turun apabila ditelantarkan. Kita melihat dalam kehidupan sehari-hari tidak punya waktu untuk olahraga, mengurangi tidur karena mencari uang, bekerja keras untuk mengumpul kan kekayaan dan mengabai kan kesehatannya. Tapi kemudian tidak sedikit diantaranya kemudian jatuh sakit dan menghabiskan kekayaannya untuk berobat untuk mengembalikan kesehatannya. Menurut, Sharkey (2001) kebiasaan untuk hidup sehat dan berumur panjang meliputi, olahraga teratur, tidur secukupnya, serapan yang baik, makan secara teratur, kontrol buat badan, bebas merokok dan bebas minum alkohol."

Pada tahun 2019, tercatat penyebab kematian utama di dunia adalah penyakit tidak menular, dan ranking pertama adalah penyakit jantung iskemik dengan persentase 16% dari total kematian sedunia, disusul stroke sebanyak 11% dan PPOK menyumbang 6%. Saat ini dunia sedang berada ditengah-tengah krisis dengan skala yang sangat besar yang belum pernah terjadi sebelumnya di jaman modern ini, yaitu pandemi Covid-19 yang melanda ke seluruh penjuru dunia. Hingga tulisan ini dibuat per tanggal 14 Desember 2020 telah tercatat 70.8 juta kasus dan 1.6 juta kematian terkonfirmasi Covid-19. Sementara penyakit-penyakit tidak menular yang disebutkan sebelumnya merupakan co-morbid yang penting terhadap keparahan dan outcome dari penderita Covid-19.

Penularan yang cepat dari virus SARS Cov2 ini membuat pembatasan pergerakan manusia di seluruh dunia—penjarakan fisik, bekerja, dan sekolah daring dari rumah—membawa beberapa konsekuensi akibat perubahan kebiasaan perilaku hidup aktif menjadi lebih santai atau sedentary behaviour. Kita saksikan beberapa orang di sekitar kita, dan mungkin kita juga termasuk yang mengalami peningkatan berat badan selama isolasi mandiri pada masa pandemi Covid-19 ini. Studi pada anak usia sekolah menunjukkan peningkatan BMI (Body Mass Index) terjadi secara signifikan pada anak-anak yang libur dibandingkan mereka pada masa sekolah. Walaupun pengaturan makan dan olahraga selama sekolah masih dianggap belum ideal namun perbedaan BMI antara masa sekolah dan masa libur menunjukkan pentingnya pengaturan diet dan aktifitas fisik/olahraga.

Studi pada orang dewasa menunjukkan bahwa faktor risiko peningkatan berat badan selama isolasi mandiri pada masa pandemi ini dengan perubahan pola hidup sedentary adalah akibat kekurangan tidur (sleep inadequate), kebiasaan mengudap/mengemil setelah makan malam, kurangnya pengendalian diri terhadap makan, kebiasaan makan sebagai respon terhadap stres dan kurangnya aktifitas fisik termasuk olahraga. Oleh sebab itu, praktis rekomendasi yang tepat untuk mengurangi risiko kenaikan berat badan di masa karantina mandiri adalah pentingnya mendapatkan jumlah tidur yang adekuat, hindari mengudap/mengemil setelah makan malam, penerapan pengekangan/restriksi diet, ubah mekanisme mengatasi stres, dan pertahankan kebiasaan latihan fisik/olahraga.

Latihan anaerobik maupun aerobik memiliki efek menguntungkan pada metabolisme lipid. Latihan anaerobik telah terbukti memiliki pengaruh positif pada profil lipid. Keuntungan yang diperoleh dari latihan fisik berasal dari peningkatan curah jantung dan peningkatan kemampuan otot yang bekerja dan memanfaatkan oksigen dari darah. Manfaat lain dari latihan fisik adalah efeknya pada peningkatan kadar kolesterol HDL dan penurunan trigliserid, yang keduanya berakibat pada penurunan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Manfaat lain olahraga yang diperoleh adalah peningkatan sensitivitas insulin, peningkatan fungsi kognitif, peningkatan respons terhadap stres psikososial, serta pencegahan depresi. Manfaat-manfaat ini sungguh penting di masa pandemi Covid-19 ini, karena penurunan risiko penyakit kardiovaskuler dan metabolik tentunya akan menurunkan tingkat keparahan dari Covid-19 akibat adanya comorbid juga memperbaiki kualitas hidup pada umumnya. Olahraga rutin juga bermanfaat dalam memperbaiki kualitas tidur pada usia menengah dan dewasa tua, melindungi tubuh melawan Covid-19 dengan cara meningkatkan elemenelemen imunitas tertentu (khususnya olahraga aerobik) yang memicu mobilitas limfosit, dan menurunkan tingkat keparahan penyakit.

Olahraga atau aktivitas fisik sebagai bagian dari PHBS merupakan hal yang sangat penting di masa pandemik Covid-19 yang masih berlangsung saat ini. Dikutip dari International Journal of Cardiovascular Science, olahraga atau aktivitas fisik, terutama pada intensitas dan durasi sedang, dapat mendukung respon imun dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Sedangkan, olahraga dengan intensitas tinggi dan berkepanjangan tidak disarankan untuk dilakukan karena dapat menyebabkan imunosupresi atau menurunkan imunitas tubuh.

Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa olahraga atau aktivitas fisik dapat mencegah terjadinya gangguan mental yang dialami oleh sebagian orang karena adanya penerapan karantina dan isolasi, maupun jaga jarak (physical dystancing) akibat pandemik Covid-19. Gangguan mental tersebut misalnya depresi, kecemasan, sindrom kelelahan dan stress.

Berolahraga atau melakukan aktivitas fisik juga dapat menghindarkan seseorang dari penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi, penyakit yang kemungkinan besar dapat terjadi pada masa pandemik Covid-29 karena kurangnya aktivitas fisik masyarakat yang cenderung menghabiskan waktu di rumah dengan menonton televisi, menggunakan handphone, dan bermain game, sehingga berisiko mengalami penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi.

Melihat pentingnya menjaga hidup sehat dan berbagai manfaat positif dari olahraga rutin, maka yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, olahraga apa yang baik dan aman untuk dilakukan selama pandemi ini? Sementara penjarakan fisik dan isolasi mandiri masih banyak diperlukan untuk membatasi penyebaran virus SARS Cov2. Pesan yang perlu ditekankan dan diperhatikan adalah keseimbangan antara manfaat aktifitas fisik/ olahraga dan risiko terkena infeksi saat olahraga, jadi kewaspadaan terhadap transmisi virus SARS Cov-2 tetap dilakukan antara lain yaitu dengan tetap memberikan penjarakan fisik.

Beberapa penelitian melaporkan bahwa olahraga dalam ruangan (indoor) lebih besar risiko tertular infeksi virus ini, seperti kondisi ruang tertutup, banyaknya orang yang berada dalam ruangan olahraga, makin mempermudah terjadinya transmisi. Sehingga sangat perlu protokol yang ketat dan tepat antara lain menghindari kontak fisik atau terlalu dekat dengan orang lain ataupun dengan benda-benda yang bisa terkontaminasi. Mempertimbangkan bahwa penularan Covid-19 dari manusia ke manusia melalui droplet maka banyak negara menggunakan patokan penjarakan fisik yang banyak diadopsi adalah 1.5meter antar orang. Namun, jarak ini hanya tepat untuk kondisi berdiam di tempat, sehingga tidak lagi sesuai untuk orang yang berjalan, berlari apalagi bersepeda. Dapat disimulasikan apabila ada beberapa pelari dengan jarak tertentu namun dalam satu jalur yang sama maka pelari paling belakang akan menjadi yang paling banyak berisiko terpapar droplet atau partikel kecil aerosol yang mengandung virus. Jadi sebenarnya paling aman adalah melakukan olahraga luar ruang sendirian, namun terkadang atau bahkan seringkali tak terhindarkan saat berolahraga di luar akan bertemu pula dengan orang lain yang berolah raga. Jarak yang direkomendasikan adalah 5 meter untuk yang berolahraga jalan cepat, dan jarak 10 meter untuk olahraga lari dengan pertimbangan partikel kecil aerosol yang dikeluarkan oleh seseorang akan tersuspensi di udara selama beberapa saat, bahkan partikel yang sangat kecil dapat menempuh jarak hingga puluhan meter. Oleh karena itu, masih perlu banyak pertimbangan dan studi yang diperlukan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertimbangan jarak yang aman seperti arah dan kecepatan angin pada protokol olahraga di tempat terbuka.

WHO (World Health Organization) merekomendasikan latihan fisik selama 150- 300 menit dengan intensitas sedang atau 75-150 menit dengan intensitas berat, atau kombinasi diantara keduanya per minggu. Olahraga seperti ini dapat dilakukan di rumah walau tanpa bantuan alat sekalipun, bahkan di ruangan terbatas, bukan ruang olahraga ataupun di pusat kebugaran. Berikut beberapa tips supaya tetap aktif dan mengurangi perilaku santai (sedentary) yaitu mengambil waktu sesaat untuk beraktifitas fisik rutin tiap hari misal menari, bermain dengan anak, mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari seperti membersihkan rumah, atau berkebun. Prinsipnya adalah tetap beraktifitas fisik walaupun di rumah. Bisa juga melakukan olahraga sendiri di rumah dengan panduan kelas olahraga online yang banyak kita temui di YouTube. Aktifitas sederhana seperti jalan di tempat dalam jangka waktu tertentu, atau berjalan di sekeliling rumah, mengurangi banyak duduk dan berbaring, dan selalu mengusahakan untuk bangun berdiri setiap 30 menit dari posisi duduk.

Seperti apakah olahraga intensitas sedang dan bagaimanakah yang intensitas berat? Contoh olahraga dengan intensitas sedang antara lain jalan cepat, tenis ganda dan bersepeda dengan kecepatan dibawah 16 km/jam. Sedangkan hiking, tennis tunggal, berenang beberapa kali putaran, loncat tali, dan bersepeda dengan kecepatan 16 km/ jam atau lebih termasuk olahraga aerobik dengan intensitas berat. Sedangkan olahraga yang bisa dilakukan sendiri di rumah sekedar untuk menjaga tubuh tetap aktif misalnya dengan melakukan beberapa set gerakan olahraga rutin seperti angkat lutut ke siku yang berlawanan selama 1-2 menit dan diulang hingga 5 kali dengan diselingi istirahat 30-60 detik. Plank yaitu kedua lengan bawah di lantai menyangga tubuh dengan posisi siku tegak lurus dibawah bahu, pinggang ditahan setinggi kepala dan tahan posisi ini selama 20-30 detik atau lebih bila kuat dan diulang hingga 5 kali dengan diselingi istirahat 30-60 detik. Gerakan ekstensi ke belakang (back extension), squat dan berbagai gerakan latihan otot-otot ekstremitas, punggung, dan abdomen dapat dilakukan dengan repetisi, dan diakhiri dengan pendinginan yaitu duduk bersila di lantai dengan posisi seperti meditasi sehingga berguna untuk relaksasi dan menurunkan stres.

Manfaat olahraga teratur, terjadwal, tepat intensitas dan tipenya, tidak hanya ditujukan sebagai tatalaksana hipertensi yang merupakan salah satu komorbid utama pada kasus Covid-19, melainkan juga untuk meningkatkan imunitas tubuh. Banyak studi telah membuktikan bahwa olahraga dapat meningkatkan fungsi imun tubuh. Mekanisme yang mendukung peningkatan imunitas dengan latihan fisik intensitas sedang antara lain berhubungan dengan stimulasi pertukaran sel sistem imun bawaan dan komponen antara jaringan limfoid dan darah, yang akan meningkatkan immunosurveillance terhadap patogen disertai dengan penurunan inflamasi sistemik seperti IL-6, komplemen dan immunoglobulin.

Walaupun dapat meningkatkan imunitas tubuh, perubahan pada pertahanan mekanik dari saluran napas juga terjadi pada individu yang berolahraga. Olahraga diduga dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, namun hanya pada olahraga yang berat. Banyak virus dan patogen pada droplet di udara yang menyebabkan tubuh menjadi rentan untuk terinfeksi, salah satunya infeksi saluran napas atas. Kerentanan ini dipengaruhi oleh pola aliran udara dan pertahanan mekanik dari saluran napas atas. Silia di trakea akan mengeluarkan mukus dan partikel-partikel patogen yang terjerat untuk kembali ke tenggorokan yang dibantu oleh refleks bantuk dan bersin. Ketika berolahraga, terjadi perubahan pola napas menggunakan hidung dan mulut secara bergantian menyebabkan saluran napas menjadi kering dan mengurangi pergerakan silia serta mengentalkan mukus. Hal tersebut akan mengganggu proses pembersihan mikroorganisme dari traktus respiratori dan individu menjadi rentan terhadap infeksi saluran napas atas. Namun kerentanan terhadap virus baru terlihat meningkat pada jarak tempuh lari maraton, yaitu sekitar 42 km atau latihan fisik dengan intensitas berat, dan tidak pada jarak tempuh 20-30 km.

 

Penutup
Kesimpulan: Pandemi Covid-19 telah meluluh lantahkan setiap sektor-sektor bidang serta mengubah gaya hidup jutaan manusia menjadi pola sedentary lifestyle, yang mana hal tersebut tidak bisa dibiarkan, dan sebagai manusia kita hanya pasrah dengan keadaan. Dengan situasi dan keadaan yang memprihatinkan terutama di bidang kesehatan, maka diperlukan sebuah stimulus untuk menanggulanginya, yaitu dengan aktifitas olahraga yang merupakan sebuah manifesto untuk menjaga kesehatan. Manfaat olahraga bertujuan untuk pengendalian tekanan darah, dan mengurangi risiko kardiovaskular serta meningkatkan imunitas. Olahraga jenis aerobik dengan intensitas sedang dalam waktu 30-60 menit, menunjukkan peran yang penting dalam menstimulasi sistem imun. Dalam masa pembatasan sosial, maka olahraga tersebut dilakukan dengan pembatasan jarak, atau dengan teknik home-exercise, secara virtual atau dengan daring.

 

DAFTAR PUSTAKA

Cooper and Brown. 1990. Aerobic. Jakarta : Grarnedia

Lutan, Rusli. Dkk. 1997. Manusia dun Olahraga. Bandung: ITB dan FPOK IKLP Bandung

Chrisly, M. P. (2015). Manfaat Latihan Olahraga Aerobik Terhadap Kebugaran Fisik Manusia. Jurnal e- Biomidik (eBm) Volume 3, No. 3, Januari-April 2015.

Nurhalimah, S. (2020). Covid-19 dan Hak Masyarakat atas Kesehatan. Jurnal Sosial & Budaya Syar-I Volume 7 Nomor 6 (2020), DOI: 10.15408/sjsbs.v7i6.15324, 543-554.

Pane, B. S. (2015). Peran Olahraga Dalam Meningkatkan Kesehatan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 21 Nomor 79 Tahun XXI Meret 2015.

https://online-journal.unja.ac.id/IJSSC/article/view/10158/10810 diakses Senin, 13 April 2021. Pukul 22.29

https://online-journal.unja.ac.id/csp/article/view/6218/9280 diakses Senin, 14 April 2021. Pukul 14.29

https://online-journal.unja.ac.id/IJSSC/article/view/10112/5783  diakses Senin, 14 April 2021. Pukul 15.00

https://online-journal.unja.ac.id/csp/article/view/10696/10209 diakses Senin, 14 April 2021. Pukul 20.14

https://repository.unja.ac.id/16369/4/BAB%201-converted.pdf diakses Senin, 14 April 2021. Pukul 21.17

Komentar