Artikel Ilmiah (Riqky Ananda Putra - K1A118050)
ARTIKEL ILMIAH
PERANAN OLAHRAGA PADA MASA PANDEMI COVID-19
RIQKY ANANDA PUTRA
K1A118050
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN
JURUSAN PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KEPELATIHAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
PERANAN
AKTIVITAS OLAHRAGA PADA MASA PANDEMI COVID-19
Oleh:
Riqky Ananda
Putra (K1A118050)
Program Studi Pendidikan
Olahraga dan Kesehatan
Abstrak
Dengan
adanya Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak buruk yang merugikan setiap
sektor kehidupan, tidak dapat dipungkiri kemerosotan ekonomi, sosial dan
kesehatan masyarakat menjadi perhatian kita bersama dalam membangkitkan sektor
tersebut. Dari segi sosial yang berkaitan dengan dampak kesehatan, Pandemi
Covid-19 menyebabkan resiko terjadinya sebuah pola sedentary lifestyle dalam
kehidupan manusia, Dalam menjawab tantangan tersebut dengan memunculkan
solusinya yaitu dengan memunculkan kiat-kiat membangkitkan semangat menjaga
kesehatan dengan olahraga. Peranan dan manfaat dengan berolahraga mempunyai
dampak positif yang besar terhadap kesehatan masyarakat di masa Pandemi Covid-19.
Aktifitas Olahraga akan menjadi sebuah solusi yang taktis dalam menanggulangi
pola hidup yang tidak sehat serta upaya dengan kiat-kiat mengajak masyarakat
melakukan aktivitas olahraga diharapkan dapat menekan angka penurunan kesehatan
di tengah masa Pandemi Covid-19.
Kata Kunci : Aktifitas,
Olahraga, Pandemi Covid-19
Abstract
With
the Covid-19 Pandemic having had a negative impact on every sector of life, it
is undeniable that the economic, social and public health deterioration is our
common concern in reviving this sector. From a social point of view related to
health impacts, the Covid-19 Pandemic has caused a lifestyle pattern in human
life. In responding to these challenges with a solution, namely tips to arouse
the spirit of health through exercise. The role and benefits of exercising had
a big positive impact on public health during the Covid-19 Pandemic. Sports
activities will be a tactical solution in overcoming unhealthy lifestyles as
well as efforts to encourage people to do sports activities that can reduce the
decline in health in the midst of the Covid-19 Pandemic.
Keywords: Activities,
Sports, Covid-19 Pandemic
Pendahuluan
Saat ini masyarakat sedang dalam tekanan dibidang ekonomi, sosial,
terutama pada kesehatan, dimana covid- 19 menghantui kehidupan masyarakat pada
umumnya. Padahal masyarakat memiliki hak dasar atas kesehatan yang telah diakui
dan dilindungi oleh konstitusi, maka Negara dalam hal ini pemerintah haruslah
berperan aktif dalam hal tersebut (Nurhalimah, 2020). Covid-19 yang kita tahu
bersama merupakan virus yang menyerang sistem pernafasan manusia dan dapat
menular kepada manusia lainnya. Virus ini bisa menyerang siapa saja, namun yang
lebih rentan ialah anak-anak, lansia, dan ibu hamil serta orang-orang yang
ketebalan tubuhnya (imunitas) nya rendah. Salah satu cara menjaga ataupun
meningkatkan imunitas tubuh kita yaitu dengan melakukan kegiatan olahraga atau
aktivitas fisik. Seperti yang dinyatakan oleh (Sukendra, 2015) yaitu aktivitas
olahraga/fisik yang tidak berlebihan atau dengan kata lain olahraga kategori
ringan dan sedang mampu menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh, sehingga tubuh
tidak mudah terserang penyakit
Menurut World Health Organization (WHO, 2010) aktivitas fisik dapat
didefinisikan sebagai gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot-otot rangka dan
membutuhkan energi. Berbagai aktivitas fisik seperti berlari, berjalan,
bekerja, bermain, angkat beban dan berbagai latihan fisik lainnya. Aktifitas
fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga dan
energi atau pembakaran kalori (RI, 2015).
Faktor-faktor seseorang dalam melakukan aktivitas fisik/olahraga diantaranya
yaitu pertama jenis kelamin, jenis kelamin menjadi salah satu faktor melakukan
aktivitas olahraga karena antara laki-laki dan wanita memiliki motivasi yang
berbeda-beda dalam hal melakukan kegiatan olahraga. Kedua dukungan orang lain/
teman, dalam melakukan kegiatan olahraga walaupn dilakukan secara individu,
namun peran teman sangatlah dibutuhkan dalam hal memberi motivasi dalam setiap
kegiatan yang dilakukan. dan yang terakhir adalah perceived barriers yang lemah
(Dinanti, 2019).
Berdasarkan pendapat di atas tentang aktivitas fisik maka dapat di
simpulkan bahwasanya aktivitas fisik atau olahraga adalah kegiatan yang dilakukan
seseorang dalam bentuk kegiatan olahraga yang melibatkan semua anggota tubuh
serta dalam kegiatannya membutuhkan energi yang berasal dari dalam tubuhnya
sendiri dan energi yang dibutuhkan tergantung dengan tingkatan aktivitas fisik
yang ia lakukan.
Aktifitas olahraga merupakan sebuah manifesto untuk menjaga
kesehatan, yang mana olahraga banyak manfaat diperoleh begitu kompleks, baik
dari sisi jasmani maupun rohani. Tidak mudah untuk membangkit semangat
berolahraga di kalangan masyarakat, untuk mendasarnya diperlukan sebuah upaya
penumbuhan kesadaran terlebih dahulu dalam mengedukasi masyarakat untuk melakukan
aktifitas olahraga, kemudian juga mengedukasi manfaat aktifitas olahraga dalam
menjaga kesehatan terlebih di tengah masa pandemi covid-19.
Upaya peningkatan kesehatan sesungguhnya dapat
dilakukan oleh setiap orang melalui kegiatan sederhana dan murah.
Disamping pengaturan makan, penggunaan olahraga merupakan usaha
sederhana dan murah untuk meningkatkan kesehatan asalkan disertai pengetahuan
dan pengertian tentang kesehatan
olahraga yang benar. Kemampuan
swalayan husada dalam keluarga perlu
dipupuk dan dibina
sejak usia dini, sehingga dapat terhindar dari gangguan
kesehatan yang dapat melemahkan ketahanan Sumbe Daya Manusia bagi pembangunan. Salah satu
cara untuk menjaga
dan meningkatkan kesehatan masyarakat
yaitu melalui olahraga. Olahraga
merupakan kegiatan melakukan aktifitas
fisik dengan baik atau mengolah
tubuh /fisik dengan baik dan
teratur dengan tujuan
olahraga untuk memelihara dan
menjaga kesehatan.
Secara umum semua cabang olahraga dapat digunakan untuk memelihara kesehatan.
Pembahasan
Semua bangsa
mengakui bahwa olahraga merupakan salah satu unsur yang berpengaruh dan
bermanfaat dalam kehidupan manusia, Sudah
sejak 25 abad yang lampau orang mencari-cari cara agar tubuhnya sehat.
Hypocrates (460 - 577 SM) misalnya telah memberikan saran yang sarnpai sekarang
masih cocok untuk dilakukan. Jika kita bisa memberikan tubuh makanan dan
olahraga yang cukup, tidak kurang dan tidak berkelebihan sebenarnya kita telah
menemukan cara yang paling aman dalam memperoleh kesehatan. lchsan (1991)
olahraga pada dasarnya berisi kegiatan yang berorientasi pada gerak.
Pelaksanaannya bergantung pada kemarnpuan dan kegiatan yang ingin dicapai oleh
pelakunya. Melalui aktivitas jasmani akan terjadi perubahan berupa pengaruh
positif terhadap kesehatan. Sebaliknya akibat negatif akan diperoleh jika
olahraga itu dilakukan dengan cara yang salah- Cara berolahraga yang benar
sebetulnya sudah banyak masyarakat mengetahuinya, karena sangat tergantung
kepada tujuan apa yang ingin dicapainya.
Asas kesinambungan diperlukan untuk mencapai status kesehatan yang
lebih baik. Orang yang terlalu banyak mengeluarkan tenaga dalam kesibukannya
sehari-hari memerlukan kompensasi. Dia membutuhkan kegiatan lari sehgai
"pelepas lelah". Kita membutuhkan kegiatan seperti kegiatan rohaniah
yang memberikan keseimbangan antara kegiatan jasmaniah dan rohaniyah.
Keseimbangan yang lebih lengkap lagi meliputi faktor fisiologis, psikologis dan
sosial. Jika dilihat lebih jauh lagi faktor fisiologis meliputi kebutuhan gizi,
faktor psikologi melibatkan mental dan lingkungan sosial.
Jika dilihat makna, sehat menurut WHO dan Depkes RI, Giri Wijoyo
(1991) mengemukakan "pengertian sehat yakni sejahtera jasmani, rohani dan
sosial, bukan saja bebas dari penyakit, cacat ataupun kelemahan". Jadi
sehat itu meliputi tiga aspek yang saling berhubungan erat, yakni jasmani,
rohani dan sosial. Karena itu tidaklah mengherankan pembinaan kesehatan melalui
satu aspek yaitu olahraga yang mempengaruhi terhadap rohani dm
sosial. Sementara bagian sehat bebas penyakit, cacat dan kelemahan. Kesehatan
mempunyai tingkatan, dia akan meningkat apabila dibina dan akan turun apabila
ditelantarkan. Kita melihat dalam kehidupan sehari-hari tidak punya waktu untuk
olahraga, mengurangi tidur karena mencari uang, bekerja keras untuk mengumpul
kan kekayaan dan mengabai kan kesehatannya. Tapi kemudian tidak sedikit
diantaranya kemudian jatuh sakit dan menghabiskan kekayaannya untuk berobat
untuk mengembalikan kesehatannya. Menurut, Sharkey (2001) kebiasaan untuk hidup
sehat dan berumur panjang meliputi, olahraga teratur, tidur secukupnya, serapan
yang baik, makan secara teratur, kontrol buat badan, bebas merokok dan bebas
minum alkohol."
Pada tahun 2019, tercatat penyebab kematian utama di dunia adalah
penyakit tidak menular, dan ranking pertama adalah penyakit jantung iskemik
dengan persentase 16% dari total kematian sedunia, disusul stroke sebanyak 11%
dan PPOK menyumbang 6%. Saat ini dunia sedang berada ditengah-tengah krisis
dengan skala yang sangat besar yang belum pernah terjadi sebelumnya di jaman
modern ini, yaitu pandemi Covid-19 yang melanda ke seluruh penjuru dunia.
Hingga tulisan ini dibuat per tanggal 14 Desember 2020 telah tercatat 70.8 juta
kasus dan 1.6 juta kematian terkonfirmasi Covid-19. Sementara penyakit-penyakit
tidak menular yang disebutkan sebelumnya merupakan co-morbid yang penting
terhadap keparahan dan outcome dari penderita Covid-19.
Penularan yang cepat dari virus SARS Cov2 ini membuat pembatasan
pergerakan manusia di seluruh dunia—penjarakan fisik, bekerja, dan sekolah
daring dari rumah—membawa beberapa konsekuensi akibat perubahan kebiasaan
perilaku hidup aktif menjadi lebih santai atau sedentary behaviour. Kita
saksikan beberapa orang di sekitar kita, dan mungkin kita juga termasuk yang
mengalami peningkatan berat badan selama isolasi mandiri pada masa pandemi
Covid-19 ini. Studi pada anak usia sekolah menunjukkan peningkatan BMI (Body
Mass Index) terjadi secara signifikan pada anak-anak yang libur dibandingkan
mereka pada masa sekolah. Walaupun pengaturan makan dan olahraga selama sekolah
masih dianggap belum ideal namun perbedaan BMI antara masa sekolah dan masa
libur menunjukkan pentingnya pengaturan diet dan aktifitas fisik/olahraga.
Studi pada orang dewasa menunjukkan bahwa faktor risiko peningkatan
berat badan selama isolasi mandiri pada masa pandemi ini dengan perubahan pola
hidup sedentary adalah akibat kekurangan tidur (sleep inadequate), kebiasaan
mengudap/mengemil setelah makan malam, kurangnya pengendalian diri terhadap
makan, kebiasaan makan sebagai respon terhadap stres dan kurangnya aktifitas
fisik termasuk olahraga. Oleh sebab itu, praktis rekomendasi yang tepat untuk
mengurangi risiko kenaikan berat badan di masa karantina mandiri adalah
pentingnya mendapatkan jumlah tidur yang adekuat, hindari mengudap/mengemil
setelah makan malam, penerapan pengekangan/restriksi diet, ubah mekanisme
mengatasi stres, dan pertahankan kebiasaan latihan fisik/olahraga.
Latihan anaerobik maupun aerobik memiliki efek menguntungkan pada
metabolisme lipid. Latihan anaerobik telah terbukti memiliki pengaruh positif
pada profil lipid. Keuntungan yang diperoleh dari latihan fisik berasal dari
peningkatan curah jantung dan peningkatan kemampuan otot yang bekerja dan memanfaatkan
oksigen dari darah. Manfaat lain dari latihan fisik adalah efeknya pada
peningkatan kadar kolesterol HDL dan penurunan trigliserid, yang keduanya
berakibat pada penurunan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Manfaat
lain olahraga yang diperoleh adalah peningkatan sensitivitas insulin,
peningkatan fungsi kognitif, peningkatan respons terhadap stres psikososial,
serta pencegahan depresi. Manfaat-manfaat ini sungguh penting di masa pandemi
Covid-19 ini, karena penurunan risiko penyakit kardiovaskuler dan metabolik
tentunya akan menurunkan tingkat keparahan dari Covid-19 akibat adanya comorbid
juga memperbaiki kualitas hidup pada umumnya. Olahraga rutin juga bermanfaat
dalam memperbaiki kualitas tidur pada usia menengah dan dewasa tua, melindungi
tubuh melawan Covid-19 dengan cara meningkatkan elemenelemen imunitas tertentu
(khususnya olahraga aerobik) yang memicu mobilitas limfosit, dan menurunkan
tingkat keparahan penyakit.
Olahraga atau aktivitas fisik sebagai bagian dari PHBS merupakan
hal yang sangat penting di masa pandemik Covid-19 yang masih berlangsung saat
ini. Dikutip dari International Journal of Cardiovascular Science,
olahraga atau aktivitas fisik, terutama pada intensitas dan durasi sedang,
dapat mendukung respon imun dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap
penyakit. Sedangkan, olahraga dengan intensitas tinggi dan berkepanjangan tidak
disarankan untuk dilakukan karena dapat menyebabkan imunosupresi atau
menurunkan imunitas tubuh.
Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa olahraga atau
aktivitas fisik dapat mencegah terjadinya gangguan mental yang dialami oleh
sebagian orang karena adanya penerapan karantina dan isolasi, maupun jaga jarak
(physical dystancing) akibat pandemik Covid-19. Gangguan mental tersebut
misalnya depresi, kecemasan, sindrom kelelahan dan stress.
Berolahraga atau melakukan aktivitas fisik juga dapat menghindarkan
seseorang dari penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi, penyakit
yang kemungkinan besar dapat terjadi pada masa pandemik Covid-29 karena
kurangnya aktivitas fisik masyarakat yang cenderung menghabiskan waktu di rumah
dengan menonton televisi, menggunakan handphone, dan bermain game, sehingga
berisiko mengalami penyakit jantung, diabetes, dan tekanan darah tinggi.
Melihat pentingnya menjaga hidup sehat dan berbagai manfaat positif
dari olahraga rutin, maka yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, olahraga
apa yang baik dan aman untuk dilakukan selama pandemi ini? Sementara penjarakan
fisik dan isolasi mandiri masih banyak diperlukan untuk membatasi penyebaran
virus SARS Cov2. Pesan yang perlu ditekankan dan diperhatikan adalah
keseimbangan antara manfaat aktifitas fisik/ olahraga dan risiko terkena
infeksi saat olahraga, jadi kewaspadaan terhadap transmisi virus SARS Cov-2
tetap dilakukan antara lain yaitu dengan tetap memberikan penjarakan fisik.
Beberapa penelitian melaporkan bahwa olahraga dalam ruangan
(indoor) lebih besar risiko tertular infeksi virus ini, seperti kondisi ruang
tertutup, banyaknya orang yang berada dalam ruangan olahraga, makin mempermudah
terjadinya transmisi. Sehingga sangat perlu protokol yang ketat dan tepat
antara lain menghindari kontak fisik atau terlalu dekat dengan orang lain
ataupun dengan benda-benda yang bisa terkontaminasi. Mempertimbangkan bahwa
penularan Covid-19 dari manusia ke manusia melalui droplet maka banyak negara
menggunakan patokan penjarakan fisik yang banyak diadopsi adalah 1.5meter antar
orang. Namun, jarak ini hanya tepat untuk kondisi berdiam di tempat, sehingga
tidak lagi sesuai untuk orang yang berjalan, berlari apalagi bersepeda. Dapat
disimulasikan apabila ada beberapa pelari dengan jarak tertentu namun dalam
satu jalur yang sama maka pelari paling belakang akan menjadi yang paling
banyak berisiko terpapar droplet atau partikel kecil aerosol yang mengandung
virus. Jadi sebenarnya paling aman adalah melakukan olahraga luar ruang
sendirian, namun terkadang atau bahkan seringkali tak terhindarkan saat
berolahraga di luar akan bertemu pula dengan orang lain yang berolah raga.
Jarak yang direkomendasikan adalah 5 meter untuk yang berolahraga jalan cepat,
dan jarak 10 meter untuk olahraga lari dengan pertimbangan partikel kecil
aerosol yang dikeluarkan oleh seseorang akan tersuspensi di udara selama beberapa
saat, bahkan partikel yang sangat kecil dapat menempuh jarak hingga puluhan
meter. Oleh karena itu, masih perlu banyak pertimbangan dan studi yang
diperlukan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertimbangan
jarak yang aman seperti arah dan kecepatan angin pada protokol olahraga di
tempat terbuka.
WHO (World Health Organization) merekomendasikan latihan
fisik selama 150- 300 menit dengan intensitas sedang atau 75-150 menit dengan
intensitas berat, atau kombinasi diantara keduanya per minggu. Olahraga seperti
ini dapat dilakukan di rumah walau tanpa bantuan alat sekalipun, bahkan di
ruangan terbatas, bukan ruang olahraga ataupun di pusat kebugaran. Berikut
beberapa tips supaya tetap aktif dan mengurangi perilaku santai (sedentary)
yaitu mengambil waktu sesaat untuk beraktifitas fisik rutin tiap hari misal
menari, bermain dengan anak, mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari seperti
membersihkan rumah, atau berkebun. Prinsipnya adalah tetap beraktifitas fisik
walaupun di rumah. Bisa juga melakukan olahraga sendiri di rumah dengan panduan
kelas olahraga online yang banyak kita temui di YouTube. Aktifitas sederhana
seperti jalan di tempat dalam jangka waktu tertentu, atau berjalan di
sekeliling rumah, mengurangi banyak duduk dan berbaring, dan selalu
mengusahakan untuk bangun berdiri setiap 30 menit dari posisi duduk.
Seperti apakah olahraga intensitas sedang dan bagaimanakah yang
intensitas berat? Contoh olahraga dengan intensitas sedang antara lain jalan
cepat, tenis ganda dan bersepeda dengan kecepatan dibawah 16 km/jam. Sedangkan
hiking, tennis tunggal, berenang beberapa kali putaran, loncat tali, dan
bersepeda dengan kecepatan 16 km/ jam atau lebih termasuk olahraga aerobik
dengan intensitas berat. Sedangkan olahraga yang bisa dilakukan sendiri di
rumah sekedar untuk menjaga tubuh tetap aktif misalnya dengan
melakukan beberapa set gerakan olahraga rutin seperti angkat lutut ke siku yang
berlawanan selama 1-2 menit dan diulang hingga 5 kali dengan diselingi
istirahat 30-60 detik. Plank yaitu kedua lengan bawah di lantai menyangga tubuh
dengan posisi siku tegak lurus dibawah bahu, pinggang ditahan setinggi kepala
dan tahan posisi ini selama 20-30 detik atau lebih bila kuat dan diulang hingga
5 kali dengan diselingi istirahat 30-60 detik. Gerakan ekstensi ke belakang
(back extension), squat dan berbagai gerakan latihan otot-otot ekstremitas,
punggung, dan abdomen dapat dilakukan dengan repetisi, dan diakhiri dengan
pendinginan yaitu duduk bersila di lantai dengan posisi seperti meditasi
sehingga berguna untuk relaksasi dan menurunkan stres.
Manfaat olahraga teratur, terjadwal, tepat intensitas dan tipenya,
tidak hanya ditujukan sebagai tatalaksana hipertensi yang merupakan salah satu
komorbid utama pada kasus Covid-19, melainkan juga untuk meningkatkan imunitas
tubuh. Banyak studi telah membuktikan bahwa olahraga dapat meningkatkan
fungsi imun tubuh. Mekanisme yang mendukung peningkatan
imunitas dengan latihan fisik intensitas sedang antara lain berhubungan dengan
stimulasi pertukaran sel sistem imun bawaan dan komponen antara jaringan
limfoid dan darah, yang akan meningkatkan immunosurveillance terhadap patogen
disertai dengan penurunan inflamasi sistemik seperti IL-6, komplemen dan
immunoglobulin.
Walaupun dapat meningkatkan imunitas tubuh, perubahan pada
pertahanan mekanik dari saluran napas juga terjadi pada individu yang
berolahraga. Olahraga diduga dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi,
namun hanya pada olahraga yang berat. Banyak virus dan patogen pada droplet di
udara yang menyebabkan tubuh menjadi rentan untuk terinfeksi, salah satunya
infeksi saluran napas atas. Kerentanan ini dipengaruhi oleh pola aliran udara
dan pertahanan mekanik dari saluran napas atas. Silia di trakea akan mengeluarkan
mukus dan partikel-partikel patogen yang terjerat untuk kembali ke tenggorokan
yang dibantu oleh refleks bantuk dan bersin. Ketika berolahraga, terjadi
perubahan pola napas menggunakan hidung dan mulut secara bergantian menyebabkan
saluran napas menjadi kering dan mengurangi pergerakan silia serta mengentalkan
mukus. Hal tersebut akan mengganggu proses pembersihan mikroorganisme dari
traktus respiratori dan individu menjadi rentan terhadap infeksi saluran napas
atas. Namun kerentanan terhadap virus baru terlihat meningkat pada jarak tempuh
lari maraton, yaitu sekitar 42 km atau latihan fisik dengan intensitas berat,
dan tidak pada jarak tempuh 20-30 km.
Penutup
Kesimpulan: Pandemi Covid-19 telah meluluh lantahkan setiap
sektor-sektor bidang serta mengubah gaya hidup jutaan manusia menjadi pola sedentary
lifestyle, yang mana hal tersebut tidak bisa dibiarkan, dan sebagai manusia
kita hanya pasrah dengan keadaan. Dengan situasi dan keadaan yang
memprihatinkan terutama di bidang kesehatan, maka diperlukan sebuah stimulus
untuk menanggulanginya, yaitu dengan aktifitas olahraga yang merupakan sebuah
manifesto untuk menjaga kesehatan. Manfaat olahraga bertujuan untuk
pengendalian tekanan darah, dan mengurangi risiko kardiovaskular serta
meningkatkan imunitas. Olahraga jenis aerobik dengan intensitas sedang dalam
waktu 30-60 menit, menunjukkan peran yang penting dalam menstimulasi sistem
imun. Dalam masa pembatasan sosial, maka olahraga tersebut dilakukan dengan
pembatasan jarak, atau dengan teknik home-exercise, secara virtual atau dengan
daring.
DAFTAR
PUSTAKA
Cooper and Brown. 1990. Aerobic. Jakarta : Grarnedia
Lutan, Rusli. Dkk. 1997. Manusia dun Olahraga. Bandung: ITB dan
FPOK IKLP Bandung
Chrisly, M. P. (2015). Manfaat Latihan Olahraga Aerobik Terhadap
Kebugaran Fisik Manusia. Jurnal e- Biomidik (eBm) Volume 3, No. 3,
Januari-April 2015.
Nurhalimah, S. (2020). Covid-19 dan Hak Masyarakat atas Kesehatan.
Jurnal Sosial & Budaya Syar-I Volume 7 Nomor 6 (2020), DOI:
10.15408/sjsbs.v7i6.15324, 543-554.
Pane, B. S. (2015). Peran Olahraga Dalam Meningkatkan Kesehatan.
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 21 Nomor 79 Tahun XXI Meret 2015.
https://online-journal.unja.ac.id/IJSSC/article/view/10158/10810
diakses Senin, 13 April 2021. Pukul 22.29
https://online-journal.unja.ac.id/csp/article/view/6218/9280
diakses Senin, 14 April 2021. Pukul 14.29
https://online-journal.unja.ac.id/IJSSC/article/view/10112/5783 diakses Senin, 14 April 2021. Pukul 15.00
https://online-journal.unja.ac.id/csp/article/view/10696/10209
diakses Senin, 14 April 2021. Pukul 20.14
https://repository.unja.ac.id/16369/4/BAB%201-converted.pdf
diakses Senin, 14 April 2021. Pukul 21.17

Komentar
Posting Komentar